Dialog Publik “Aku Pahlawan Masa Kini”; Kadar Lusman: Siapapun Bisa Menjadi Pahlawan

Suasana Diskusi Publik Mugas Center “Aku Pahlawan Masa Kini” bersama Ketua PWI Jateng, H. Amir Machmud NS, SH. MH., Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, SE., Ketua LVRI Kota Semarang, Herman Yosep Soedjani serta dimoderatori oleh I.H. Hidayat dari Radio Elshinta Semarang di Gd. PWI Jateng, Jumat (8/11/2019). (Foto Titis/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Semarang – Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng adakan dialog publik Mugas Center bertajuk “Aku Pahlawan Masa Kini” bersama DPRD Kota Semarang di Gd. PWI Jateng, Jumat (8/11/2019).

Dialog interaktif tersebut mendatangkan tiga narasumber yakni Ketua PWI Jateng, H. Amir Machmud NS, SH. MH., Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, SE., Ketua LVRI Kota Semarang, Herman Yosep Soedjani serta dimoderatori oleh I.H. Hidayat dari Radio Elshinta Semarang.

“Aku Pahlawan Masa Kini, bagi saya pribadi artinya adalah siapa saja, atau mereka yang bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Sehingga betul-betul dicari orang banyak,” tutur Kadar Lusman, Jumat (8/11).

Kadar Lusman atau yang akrab dipanggil Pilus ini juga mengatakan bahwa kriteria arti dari label ‘pahlawan’ itu sendiri beragam. Baginya, bentuk jasa atau perilaku sekecil apapun asal itu bermanfaat bagi orang lain bisa dimasukkan ke dalam kategori sebagai pahlawan.

“Misalnya seseorang melakukan sesuatu dalam keadaan genting. Contoh waktu ada bencana banjir, kebetulan orang itu bisa menyelamatkan satu keluarga. Itu kan bisa disebut pahlawan bagi keluarga yang ia selamatkan,” tutur dia.

Lebih luas ia menyebutkan bahwa contoh besarnya ketika seseorang berjasa dan melakukan suatu hal yang bermanfaat bagi Kota Semarang, bisa dimasukkan dalam kategori pahlawan di jaman kekinian.

“Sebenarnya kalau contoh-contoh yang bisa masuk ke dalam kategori pahlawan bisa dari yang terkecil sampai yang terbesar. Katakanlah seseorang melakukan hal bermanfaat untuk Kota Semarang, maka ia juga seorang pahlawan di jamannya (sekarang). Itu sama juga waktu dulu para pahlawan tanpa dikomando ikut serta melawan penjajah dan ikut perang,” ungkapnya.

Hal tersebut berkaitan dengan penjajahan masa kini yang tidak kasat mata. Bahkan ia menyebutkan bahaya dari penjajahan jaman sekarang yang cukup sulit untuk di lawan dari pada jaman dulu yang terlihat jelas secara fisik.

Di era milenial, Pilus mengatakan bahwa anak jaman sekarang pada khususnya, serta seluruh lapisan masyarakat luas pada umumnya harus lebih waspada dan ikut serta memerangi bentuk penjajahan yang sulit dideteksi dengan jelas. Misalnya melalui kebudayaan asing dan paham radikalisme.

“Kalau dulu bisa terlihat, para penjajah yang harus kita lawan. Tantangan generasi milenial saat ini, adalah budaya asing dari barat yang tidak sesuai dengan kita melalui media digital. Juga isu-isu radikalisme,” kata dia.

Tantangan tersebut baginya adalah tanyangan terberat yang harus dilakukan di jaman sekarang. Seperti penjajahan melalui kebudayaan, hingga radikalisme yang tidak nampak secara langsung.

“Perkembangan informasi serta kemudahan untuk mengakses segala hal melalui media digital perlu dilakukan dengan bijak. Karena penjajahan budaya barat bisa melalui hal itu jika kita tidak bisa bersikap bijak dalam penggunaannya. Selanjutnya radikalisme sepeti contoh ISIS dan sayap-sayap keras lain yang tidak nampak secara langsung. Tapi mereka bisa melihat kita. Itu bahayanya,” ungkap dia.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat supaya berkonsolidasi dan bersama-sama melakukan perlawanan. Salah satunya melalui silaturahmi, khususnya di Kota Semarang.

“Tidak hanya pemerintah, elemen-elemen masyarakan lain seperti tokoh-tokoh masyarakat dan warga harus saling melakukan konsolidasi untuk melawan bersama. Adanya silaturahmi yang dilakukan terus menerus akan mempersempit ruang bagi masuknya paham radikalisme, khususnya di Kota Semarang,” ujarnya.

Disinggung perihal surat dari veteran, ia mengatakan bahwa surat mereka telah diterima dan akan diminta untuk ditindaklanjuti kepada Dinas Pendidikan. 

“Surat dari veteran sudah kami terima. Saya senang sekali, makanya nanti akan segera diminta untuk ditindaklanjuti ke Dinas Pendidikan,” kata dia.

Langkah tersebut diambil oleh DPRD Kota Semarang sebagai upaya untuk memberikan ruang berbagi pendidikan dan kesejarahan. Tujuannya untuk membagikan perihal sejarah yang benar melalui para veteran.

“Supaya anak cucu kita tahu, paham dan penting kiranya untuk mengetahui dan mengingat jasa-jasa para pahlawan melalui pendidikan kesejarahan. Bahwa kita tidak bisa hidup seperti ini hingga sekarang tanpa adanya perjuangan dari para beliau ini,” pungkasnya.(Titis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here