Di Semarang, KH Ma’ruf Amin Sebut Kemenangan Capres Nomor 01 Masih Menggantung

KH Ma'ruf Amin

SIGIJATENG.ID, Semarang – Calon Wakil Presiden RI (Capres) nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin mengatakan sistim ketatanegaraan khilafah yang sempat digulirkan untuk menggantikan NKRI tertolak secara sistemik, karena menciderai kesepakatan yang diambil oleh para pendiri negara Indonesia.

“Sistem khilafah itu bagus dan Islami, tetapi sistem lain yang ditetapkan di negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim juga bagus dan Islami. Karenanya, di sini jangan dipaksakan (system khilafah.red) untuk menggantikan NKRI, karya kesepakatan para pendiri negara ini didalamnya juga terdapat para ulama waktu itu,” kata Ma’ruf Amin saat berhalal bihalal dan silaturahmi dengan para kyai, cendekiawan dan tokoh Jawa Tengah di Hotel PO Jalan Pemuda Semarang, Rabu (19/6/2019).

Menurutnya, para ulama khususnya ulama NU senantiasa terpanggil untuk mempertahankan NKRI, karena hal ini merupakan amanat ulama yang harus dilaksanakan yang dikemudian hari secara simpel disebut dengan NKRI harga mati.

Sikap ini, lanjutnya, sering disalahpahami mereka dengan mengatakan NU menganggap khilafah itu jelek, maka tidak perlu diterapkan di Indonesia. Padahal tidak demikian, hanya saja adanya anggapan bahwa sistim khilafah itu baik maka harus diterapkan, ini juga tidak benar.

Ma’ruf Amin menuturkan tertolaknya sistem khilafah tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara muslim. Misalnya, Saudi Arabia dan Yorfania lebih memilih kerajaan, Kuwait, Qatar , Dan Emirat Arab menggunakan ke-emiran.  Selanjutnya negara Turki dan Mesir (Republik), Pakistan dan Iran (Republik Islam) dan sebagainya. Dengan tidak menetapkan sistim khilafah mereka bagus dan islami. Sedangkan NKRI  juga tidak kalah bagus dan islami.

“Islam di Indonesia saat ini dirasakan paling pas di tengah pertarungan dan benturan ideologi global. Islam moderat yang kini dipopulerkan dengan sebutan Islam Nusantara memiiki daya survive yang tinggi,” katanya.

Disisi lain, menyinggung kondisi politik di tanah air, Ma’ruf Amin menyebut kemenangan pasangan capres nomor 01, Jokowi- Ma’ruf Amin di Pilpres 2019 masih menggantung. Hal itu karena proses sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK) belum rampung. Hasil quick count dan hasil KPU sudah menyatakan pasalon nomor urut 01 yang menang, namun ternyata masih menggantung.

“Quick count dinyatakan menang, oleh KPU dinyatakan menang, tapi masih menggantung, jadi bukan kawin saja yang digantung. Masih nunggu Mahkamah Konstitusi,” kata dia.

Ia kemudian mengungkapkan rasa syukur karena Pilpres berjalan damai. Meski demikian ia menyoroti sempat ada kerusuhan bulan Mei lalu namun bisa ditangani oleh Polri dan TNI.

“Kita bersyukur Pilpres berjalan aman, dengan damai. Walau beberapa waktu lalu ada sedikit saja, tapi TNI Polri dapat mengatasi kerusuhan yang tidak besar itu. Alhamdulillah kita bersyukur, negara tetap aman,” jelasnya.

Di sesi wawancara, Ma’ruf menjelaskan terkait pernyataan kemenangan yang menggantung tadi. Menurutnya sudah sewajarnya taat pada aturan dan mengikutinya, tidak dengan menyelesaikan di jalanan.

“Kita taat asas bagaimana berpemilu seperti apa. Sekarang sudah masuk penyelesaian sengketa di Mahkamah Konstitusi, sudah sesuai aturan pemilu. Jangan diselesaikan di jalanan, itu sudah tepat,” terang Ma’ruf.

Sementara, kegiatan tersebut dihadiri Wagub Jateng Taj Yasin, pengurus cabang NU se-Jateng, para rektor PTN/PTS di Semarang, Ketua umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji, mursyid thoriqoh khalidiyah naqsabandiyah  KH Munif Zuhri, Mursyid  Thariqah Qodiriyah Naqsabandiyah KH Hanif Muslih dan para pengasuh pesantren se Jateng. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here