Di Balik Ujian Ada Hikmah, Warga Klaten Dipercepat Hajinya 11 Tahun

Tiga jamaah haji asal Kota Semarang, yang tergabung di Kloter 67 SOC (Solo) tahun 2017 di hadapan Ka’bah.

SIGIJATENG.ID, – Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima. Wajib bagi setiap Muslim melaksanakannya sekali dalam seumur hidup. Karena wajib, jangan bernah ragu atau bertanya-tanya kapan akan berangkat meskipun  tahu kalau daftar antrian haji di Indonesia yang sangat panjang, ketika sudah mampu, yakni sudah ada dana untuk biaya ONH.  

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha-Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran[3]: 97).

Ada yang khas dalam haji dibanding ibadah selainnya. Dalam konteks Muslim Indonesia, orang yang telah menjalankan ibadah haji akan menyandang sebutan “haji” atau “hajjah”—hal yang tidak dijumpai pada ibadah shalat, puasa, dan zakat meski sama-sama rukun Islam. Namun bukan itu yang penting dan perlu dipahami. Sebutan-sebutan itu hanyalah sebutan dari manusia. Ketika tidak dipanggil ‘Haji’ atau ‘Hajjah’ juga tidak masalah.

Ada satu kisah nyata di tahun 2018 tepatnya di Klaten Jawa Tengah. Kisah ini ditulis Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta yang dimuat di laman NuOnline, Rabu 3 Juli 2019. Pak Fulan—sebut saja demikian—bersama istri, dijadwal oleh pemerintah berangkat haji pada tahun 2018. Atas kuasa Allah subhanahu wata’ala Pak Fulan mengalami sakit keras sehingga mengharuskan operasi: terdapat tumor pada ususnya. Semakin hari kondisi Pak Fulan semakin melemah sehingga tidak mungkin bisa berangkat di tahun 2018. Dengan kondisi demikian, akhirnya istri berangkat sendiri tanpa didampingi suami ataupun anak, karena kondisinya masih sehat dan kuat. 

Selama menjalani pengobatan kurang lebih 10 bulan Pak Fulan dirawat oleh putra dan keluarga dengan telaten sehingga pada tahun 2019 kondisinya semakin membaik. Tekad Pak Fulan begitu kuat untuk bisa berangkat ke Baitullah. Beliau merasa sudah lebih baik dan kuat untuk memenuhi panggilan haji. Setelah cek kesehatan atas izin Allah SWT Pak Fulan dinyatakan bisa berangkat haji di tahun 2019 ini. 

Mengingat kondisi yang baru saja mengalami sakit selama kurang lebih 10 bulan ini, tentu kondisi fisik tidak sekuat sebelumnya. Dengan hasil musyawarah akhirnya pemerintah membolehkan salah satu keluarga untuk mendampingi keberangkatannya. Dengan syarat sudah terdaftar sebagai calon jamaah haji.

Yang menarik dalam kisah ini ternyata ketika Allah memanggil hamba-Nya ke Baitullah tidak mengenal aturan pemerintah atau siapa pun. Anak dari Pak Fulan yang seharusnya keberangkaatan di tahun 2030-an, langsung maju dan berangkat di tahun 2019, bersama dengan orang tuanya.

Di balik musibah yang menimpa keluarga Pak Fulan, atas kesabarannya dan keluarga, akhirnya bisa berangkat bersama putra tercinta menuju rumah Allah.

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah kebaikan, maka akan diberi musibah,” (H.R. Bukhari).

Mahasuci dan bijaksana Allah yang mengatur kehidupan di bumi dan di langit dengan cermat dan tepat. Tidak ada kata tertunda, hanya saja Allah pilihkan waktu yang terbaik. Kesabaran berbuah kebahagiaan. Semoga keduanya dijadikan haji yang mabrur. Amiin. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here