Cak Nun Siapkan 11 Pertanyaan kepada Capres 2019, Berikut Pertanyaannya

Budayawan Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun

SIGIJATENG.ID, Semarang – Indonesia membutuhkan pemimpin yang benar-benar memiliki kepemimpinan nasional yang benar-benar memahami kebutuhan sejarah negeri ini. Bukan yang sekadar memenuhi selera darurat rakyat dan survivalisme warga negara.

Demikian dikatakan Budayawan Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun dalam bincang-bincang kepada wartawan di Semarang, Rabu (3/4/2019).

“Pemimpin yang memiliki aura pawang akan membawa damai Indonesia. Pawang menjadi seseorang yang hebat bukan karena kesaktiannya,” katanya.

Dikatakana dia, pemimpin yang sungguh-sungguh menghuni hati orisinil rakyat bukan asap-asap halusinasi di depan rakyat. “Pemimpin yang benar-benar memiliki kecakapan ilmu, kewibawan, kebijakan, kekuatan dan awu ‘pawang’, serta terada jelas oleh semua orang dialektikanya dengan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Ia menilai tahun 2019-2024 mungkin merupakan peluang terakhir bagi Indonesia untuk melakukan transisi, transformasi, dan perubahan-perubahan mendasar.

Cak Nun sendiri telah menyusun 11 pertanyaan sederhana yang ditujukan bagi para calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung dalam Pemilu 2019.

Ke-11 pertanyaan yang disusunnya sejak Februari 2019 itu, menurut dia, merupakan pertanyaan sederhana yang dibuatnya sebagai salah satu bagian untuk turut berkontribusi bagi Indonesia.

“Karena saya tidak ada akses ke sana dan tidak mungkin dilibatkan, jadi ya saya bikin sendiri,” tukasnya.

Ke-11 pertanyaan yang dibuat Cak Nun itu sebenarnya cukup sederhana karena berisi tentang dasar-dasar negara serta arah tujuan bangsa Indonesia. Meski demikian, membutuhkan pemahaman yang sangat mendalam untuk menjawab pertanyaan itu.

Seperti contoh, faktor apa yang melatarbelakangi Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, arti pemindahan kekuasaan sesuai alinea kedua Teks Proklamasi, pengertian negara kesatuan, target pemberantasan korupsi, hingga startegi yang akan diambil capres maupun cawapres untuk mengatasi rusaknya budaya birokrasi dan mentalitas pejabat.

Ke-11 pertanyaan itu, lanjut Cak Nun, belum pernah sama sekali diajukan langsung kepada pasangan calon (paslon) maupun pendukungnya yang terlibat kontestasi Pilpres 2019. Ia mengaku enggak melayangkan pertanyaan tersebut secara pribadi baik kepada paslon nomor urut 01 maupun 02. “Saya ini bukan tipe orang yang suka nyelonong. Sudah ada media massa, media sosial [medsos]. Kalau mereka mau belajar, bisa buka di sana. Ideologi Kiai Kanjeng itu tidak pernah menawarkan diri. Makanya saya tidak pernah menawarkan diri,” ujar budayawan kelahiran Jombang itu. (dian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here