Bayi Mengidap Hydrocefalus Asal Kendal Ini Butuh Uluran Tangan Dermawan

Muhhammad Safii bersama keluarga kecilnya menempati rumah berukuran 5 x 6 yang terbuat dari papan kayu berdinding papan tanpa lantai dengan sabar merawat anak pertamanya yang mengalami penyakit hydrocepalus.

SIGIJATENG.ID, Kendal – Muhammad Safi’i warga Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal hanya bisa pasrah dan berharap ada dermawan yang bisa membantu meringankan beban kehidupannya. Kondisi ekonomi keluarga yang tergolong tidak mampu ini tak henti menahan keprihatinannya.

Pasalnya, Ari Aldiansyah putra pertamanya yang kini berusia tiga tahun hanya tergolek lemas di balai papan kayu tempat tidur sebab tak kuasa menahan tekanan cairan di otak yang menumpuk. Penyakit hydrocefalus yang di rasakan hingga saat ini belum bisa disembuhkan.

Safi’i orang tua kandung mengatakan jika bayinya tersebut awalnya lahir dalam kondisi normal. Namun sejak menginjak usia tiga bulan, kepala Ari mengalami pembesaran tidak seperti layaknya bayi lainnya hingga berjalannya waktu.

“Sewaktu lahir normal pada umumnya. Tapi mulai menginjak di usia ke tiga bulan, kepala bayi putra pertama saya mengalami perubahan. Kepala membesar hingga di usianya saat ini. Keterbatasan biaya menjadikan saya tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi untuk berobat,” ujar pria yang sehari-hari bekerja menjadi nelayan ini.

Dia menceritakan dahulu pernah di bawa dan diperiksakan ke salah satu rumah sakit di wilayah Semarang. Namun, karena keterbatasan biaya dan ketidakmampuannya merawat anaknya di rumah sakit tersebut. Dirinya memilih untuk dirawat di rumah saja.

“Dahulu pernah saya bawa ke Semarang untuk diperiksa. Dari hasil laboratorium, anak saya positif mengidap penyakit hydrocefalus. Karena saya tidak mampu membiayai, saya terpaksa memiliyh membawa pulang untuk dirawat di rumah,” bebernya, Jumat (15/3/2019).

Sementara, Hidayatul Ulfa sang istri hanya mampu membantu suaminya bekerja menjadi buruh serabutan dengan harapan bisa mencukupi kebutuhan hidup. Terlebih, hingga saat ini pasangan suami istri tersebut mengaku belum memiliki rumah tinggal.

“Sejak rumah yang dahulu sering diterjang banjir rob, kami memilih tinggal di rumah kontrakan meski berukuran kecil. Bekerja menjadi buruh serabutan pendapatan juga tidak tentu. Kami juga tidak tinggal diam, agar kebutuhan hidup tercukupi salah satunya biaya makan,” ucap Ulfa.

Ia berharap, dengan kondisi dan keberadaan anaknya Ari Aldiansyah yang tengah menderita peyakit itu. Sekiranya ada orang dermawan yang memiliki hati dan lapang dada sekiranya bisa membantu pengobatan. “Pendapatan yang tak tentu untuk biaya makan saja sudah sangat beruntung dan bersyukur. Saya berharap ada dermawan yang bisa membantu mengobati anak saya,” tuturnya. (Dye)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here