Bank Sampah Lestari Magenta, Sulap Sampah Plastik Menjadi Barang-Barang Bernilai Ekonomis

Tas jinjing berbahan dasar sampah plastik, hasil binaan Bank Sampah Lestari Magenta Ungaran. (Foto titis/sigijateng.id)

SIGIJATENG.ID, Semarang – Berpartisipasi dalam mengurangi bahaya sampah plastik, Komunitas Bank Sampah Lestari Magenta olah sampah plastik menjadi barang-barang bernilai ekonomis berupa tas dan peralatan sekolah.

Sesuai dengan motto mereka “Mengubah Sampah Menjadi Rupiah (SejahteRa, LingkUngan, Proaktif, BersIh, dan IndAH),” Bank Sampah Lestari Magenta yang berasal dari Kabupaten Semarang tersebut merupakaan kelompok binaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah.

“Program-program kami biasanya lebih pada sosialisasi-sosialisasi, pelatihan pengolahan sampah baik itu organik maupun non organik, serta pengambilan sampah. Untuk pengolahan sampah, salah satu hasilnya adalah tas-tas ini,” ungkap Gusti Satria selaku Penananggungjawab Operasional Bank Sampah Lestari Magenta, Sabtu (9/11/2019).

Gusti menjelaskan, salah satu wujud produk sosialisasi dan workshop pengolahan sampah di sekolah-sekolah adalah mengolah sampah, terutama sampah plastik menjadi berbagai peralatan sekolah.

“Bentuk produknya kalau di sekolah-sekolah, selain sosialisasi, kami adakan pelatihan kepada para siswa mengolah sampah plastik utamanya, menjadi peralatan sekolah. Seperti kotak pensil dan tas-tas kecil,” kata dia.

Sedangkan aksi lain yang lebih luas, yakni masyarakat sekitar, ia menjelaskan bahwa penggandeng ibu-ibu binaan untuk pelatihan mengolah sampah menjadi barang-barang yang lebih ekonomis, yakni tas jinjing.

“Kalau tas-tas jinjing ini sendiri produksi dari ibu-ibu binaan kami. Sebenarnya kan kami kan lingkupnya Jawa Tengah, tapi sementara baru Semarang, Kab. Semarang, Solo. Nah ini hasil dari ibu-ibu binaan Solo,” kata dia.

Produk yang dijual berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu itu diproses melalui pencacahan, pengepressan, lalu dijahit dan diberi ornamen-ornamen lain supaya lebih cantik seperti puring.

Ia juga mengatakan, bahkan pada kesempatan lainnya, di acara PAC kampanye “Bahaya Sampah Plastik” mereka memberikan pelatihan kepada peserta berupa workshop ekobrik pengolahan sampah plastik menjadi batu bata.

Selain mengurangi sampah plastik, menurutnya PR besar yang harus terus digerakkan adalah mengolah sampah-sampah tersebut menjadi barang yang bermanfaat kembali, bahkan juga bisa bernilai ekonomis.

“Harapannya supaya masyarakat, khususnya Jawa Tengah lebih bijak mengolah sampah, khususnya sampah plastik. Karena plastik adalah sampah yang susah terurai,” pungkas dia.(Titis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here