Bambang Eko Minta Anggota Pemuda Pancasila Jateng Bisa Menjadi Gula Pasir

Ketua MPW PP Jateng H Bambang Eko Purnomo saat pembukaan orientasi anggota baru PP Pancasila di Bobotsari Purbalingga.

SIGIJATENG.ID, Purbalingga – Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jateng (PP Jateng ) H Bambang Eko Purnomo, SE meminta kepada seluruh anggota Pemuda Pancasila, khususnya yang di Jawa Tengah agar bisa menjadi gula pasir dalam berbagai aspek kehidupan. Yakni, utamanya ketika air dan minyak tidak bisa bersatu. Ketika ada dua kubu yang tidak bisa bersatu dan tidak ada titik temu.

“Jadilah kamu gula pasir di masyarakat. Ketika air dan minyak tidak bisa bersatu, kita menjadi gulanya yang bisa menyatukan keduanya,” kata Bambang Eko Purnomo, saat acara pembukaan orientasi penerimaan angota baru Pemuda Pancasila di Kecamatan Bobotsari Purbalingga.

Anggota Baru Pemuda Pancasila PAC Bobotsari Purbalingga

Orientasi anggota baru berlangsung dua hari, yakni tanggal 15 – 16 Maret 2019, dengan  peserta 200 orang anggota. Acara tersebut diisi materi materi tentang Organisasi Pemuda Pancasila, Kepancasilaan, bela negara dari kodim dan koramil, Turjawali dari Polres Purbalingga, dan lain-lain.

“Dengan bergabungnya mereka ke organisasi Pemuda Pancasila, harapan kami mereka bisa menjadi kader-kader penggerak pengaman dan pengamal Pancasila di Purbalingga khususnya dan NKRI pada umumnya,” kata Bambang Eko, yang juga anggota Komisi C DPRD Jateng ini.

Menyinggung soal filosofi gula pasir, menurut  Bambang Eko, yang ditanamkan dalam jiwa anggota Pemuda Pancasila adalah meniru keikhlasan gula pasir. Gula pasir yang larut tidak terlihat tapi sangat bermakna.

Gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya  kopi manis bukan kopi gula. Gula memberi  rasa manis pada teh, tapi orang menyebutnya teh manis bukan the gula. Gula digunakan untuk membuat roti, orang menyebut roti manis bukan roti gula. Tetapi apabila berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut, yakni penyakit gula. “Begitulah hidup. Kadang kebaikan yang kita tanam, tidak pernah disebut orang. Tapi kesalahan akan dibesar-besarkan. Tapi kita harus tetap ikhlas seperti gula. Tetap semangat memberi kebaikan, tetap semangat menyebar kebaikan. Karena kebaikan tidak untuk disebut, tapi untuk dirasakan,” katanya. (aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here