Anggaran Apel Kebangsaan Fantastis, Ganjar; Sesuai Prosuder dan Tidak Ditutup-tutupi

Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih"

SIGIJATENG.ID, Magelang – Apel Kebangsaan Kita Merah Putih yang akan digelar di lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Minggu (15/3) pagi menuai kritik. Diantara pemicunya adalah besarnya anggaran kegiatan itu, yakni Rp 18 Miliar lebih bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah 2019. Uang belasan miliar untuk kegiatan setengah hari.

Dilansir dari sistem e-lelang Pemprov Jawa Tengah, pemenang lelang kegiatan Apel Kebangsaan Jawa Tengah dimenangkan oleh PT. Potensindo Global, yang beralamat di Jalan Letjen Suprapto 37A Sido Mulyo Ungaran Kabupaten Semarang.

Pos dana diambilkan dari Satuan Kerja (Satker) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jateng dengan nilai HPS Rp 18,086 miliar dari total nilai pagu Rp 18,764 miliar.

 “Sangat disayangkan apabila anggaran sebesar 18 M digunakan untuk kegiatan sesaat di satu tempat. Anggaran sebesar itu akan lebih bermanfaat apabila digunakan untuk mengadakan kegiatan bertema kebangsaan di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Tengah dalam skala yang lebih kecil. Sehingga dampaknya akan semakin luas,” ujar Ketua Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang, Setyawan Budi, Jumat (15/3/2019).

Dia menilai, kegiatan yang ditujukan untuk menggelikan semangat kebangsaan memang bertujuan positif. Namun demikian, kata dia, sarana kegiatan yang diwujudkan dinilai kurang tepat. Menurut dia, alokasi anggaran yang mencapai Rp 18 miliar terlampau besar. “Acara bertema kebangsaan tidak harus yang selebratif,” tambahnya.

Soal semangat nasionalisme, sambung dia, masyarakat umumnya menyadari bahwa mereka hidup rukun bersama dengan yang lain, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan.

“Untuk kemasan acaranya tidak harus wah. Tujuannya bagus, hanya caranya saja yang kurang tepat. Semestinya penyelenggara juga mempertimbangkan kondisi perekonomian masyarakat kita saat ini,” tegasnya.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tidak mempermasalahkan sejumlah pihak yang protes penyelenggaraan Apel Kebangsaan Kita Merah Putih. Bahkan dirinya mengundang mereka untuk turut bergabung, bukan untuk mencaci tapi saling memuji. Dan soal pendanaan, Ganjar Pranowo memastikan telah sesuai prosedur. 

“Kami sangat transparan maka siapapun bisa melihat. Soal tidak sepakat dengan jumlah monggo. Tapi kami harus menghadirkan seluruh masyarakat di Jawa Tengah,” kata Ganjar, Jumat (15/3/2019). 

Soal besar atau kecilnya anggaran kegiatan, menurut Ganjar itu relatif. Karena acara tersebut bakal dihadiri sampai 130.000 warga Jawa Tengah dari 35 kabupaten kota. Namun jika ada asumsi atau tuduhan dana penyelenggaraan itu dikorupsi, itu tidak benar. 

“Kalau Anda tahu, (dana) itu untuk mereka semua. Target 100 ribu, dihitung lagi ternyata 130 ribu. Yang lain asumsi, katanya mau dikorupsi. Kalau kami mau sembunyi sembunyi nggak kami bukak kok. Makanya semua orang bisa buka, itu hebatnya (transparansi) Jawa Tengah. Makanya kita buka untuk dikritisi. Soal tidak sepakat jumlah nggak apa-apa. Tapi kita bisa jelaskan,” katanya. 

Terkait tuduhan kampanye terselubung, Ganjar menegaskan bahwa kegiatan ini tidak ada motivasi politik praktis meskipun diselenggarakan menjelang pemilu, apalagi untuk dukung salah satu pasangan calon presiden. Dia pun mengajak agar semua hadir, termasuk yang mengkritisi acara ini. 

“Justru menjelang pemilu. Kami tidak mau Jawa Tengah direobek-robek. Maka kita hadirkan semua orang. Makanya kalau ada orang marah-marah ini kampanye terselubung, lho yang mana (dukungan) capres tertentu. Maka kita undang semuanya. Mereka yang belum punya hak pilih kita undang sehingga kita bisa menanamkan itu. Siapapun boleh datang, tapi kami berprinsip bertanggungjawab ini kerja kita bersama,” katanya. 

Namun Ganjar menyayangkan semua kritikan itu dilontarkan oleh pihak-pihak yang secara pilihan politik berbeda dengan dirinya. Untuk meminimalisir acara tersebut dipolitisasi, juga telah diinstruksikan pelarangan membawa atribut partai. 

“Memang saya sedih, di medsos (yang protes) ternyata dari satu kelompok yang kebetulan berbeda pandangan politik dengan saya. Padahal menurut saya mereka hadir pun boleh. Makanya (yang hadir) kita larang menggunakan atribut politik dan capres. Makanya ikut aja, ikut bareng agar itu kepentingan kita bersama. yuk kita saling puji di tempat itu yuk. Menurut saya akan jauh lebih baik itu. Jadi asyik gitu,” katanya. (rizal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here