Danramil 11 Pedurungan Disambut Ribuan Santri Bugen Pedurungan

Kapten Arh Sujono dihampiri banyak santri dari RA, MI, MTs hingga MA di Al Wathoniyyah Bugen Semarang usai upacara HUT kemerdekaan RI ke-73.

 SIGIJATENG.ID, Semarang –Kehadiran TNI di tengah-tengah pesantren sangat dirindukan oleh masyarakat santri dan ulama. Hal ini terlihat pada peringatan HUT kemerdekaan RI di Pesantren dan Yayasan Al Wathoniyyah Kampung Bugen Pedurungan Semarang, Jumat (17/8/2018).

Kehadiran Danramil 11 Pedurungan Kapten Arh Sujono sebagai Inspektur Upacara justru disambut meriah dan gembira para santri. Terlihat setelah turun dari podium memimpin upacara, tampak ratusan murid dari Rodlotul Atfal (TK), Madrasah Intida’iyah (SD), Madrasah Tsanawiyah (SMP) dan Madrasah Aliyah (SMA) yang menjadi peserta upacara berebut untuk berjabat tangan dan foto bersama pak tentara yang menenakan Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Ada sekitar 1.500 murid dan santri yang mengikuti upacara. mereka petugas upacara juga dilatih dan dibina oleh Babinsa serta anggota Koramil 11 Pedurungan, Kodim 0733 BS Semarang.

‘Kami terharu menyaksikan jiwa nasionalisme dan patriotisme murid dan santri sekolah berbasis pesantren ini. Mereka memekikkan keras-keras semangat membela tanah air Indonesia dan siap mempertahankan ideologi Pancasila sebagai kekuatan NKRI”, ungkap Kapten Arh Sujono.

Ketua Yayasan Al Wathoniyyah KH Ubaidillah Shodaqoh mengungkapkan bahwa Al Wathoniyyah artinya kebangsaan, oleh karena itu pendidikan yang ada di lembaga pendidikannya tidak lepas dari pendidikan karakter kebangsaan Indonesia.

Sedangkan, Marzuki salah satu orang tua santri yang juga jebolan pesantren tersebut mengatakan baru kali ini upacara dipimpin oleh bapak tentara dari Koramil. Kondisi demikian menurutnya surprise mengingat pesantren di Bugen di jaman perjuangan merebut kemerdekaan RI adalah basis pejuang laskar santri dan TKR atau BKR. Karena itulah kawasan Bugen pernah dibom Belanda dan banyak korban dari laskar-laskar pesantren dan anggota TKR/BKR. “Makamnya ada di belakang pesantren ini yang dikenal dengan makam Syuhada. Mereka adalah pahlawan kusuma bangsa yang ikut perang melawan Belanda”, ujar Marzuki. (rafif/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here